JEJAK WARTA, SURABAYA – Bukan hanya menjadi saksi sejarah, Balai Pemuda Surabaya kini berkembang sebagai ruang untuk belajar sekaligus menyalurkan kreativitas. Tempat ini menggabungkan fungsi edukasi dan kreativitas dalam satu ruang publik yang inklusif.
Dalam memfasilitasi ruang edukasi yang inklusif, Pemerintah Kota Surabaya menghadirkan Perpustakaan Umum Kota Surabaya. Fasilitas yang diberikan dapat diakses secara gratis oleh berbagai lapisan elemen masyarakat, terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan ruang belajar.
Salah satu pengunjung yang merupakan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Adel (18), mengatakan bahwa Perpustakaan Umum Kota Surabaya menjadi pilihannya untuk tempat belajar karena memiliki fasilitas berupa buku-buku yang lebih lengkap daripada perpustakaan lainnya. “Perpustakaan di sekolah itu ada, sayangnya fasilitas dikit, di sini buku-bukunya lebih lengkap,” terangnya.
Dengan koleksi buku yang beragam dan suasana yang relatif tenang, Adel menjelaskan bahwa ia sering kali datang untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan sebagai tempat membaca dan melakukan kerja kelompok. “Kadang setelah pulang sekolah, malas pulang jadinya mampir ke sini buat baca buku. Sering juga ke sini untuk kerja kelompok saat masa-masa ujian.” jelasnya.
Di sisi lain, Vita (18) selaku pengunjung, menilai masih terdapat kekurangan pada fasilitas Perpustakaan Umum Kota Surabaya. Ia menjelaskan bahwa ketersediaan kursi dan meja untuk belajar masih kurang. Alasan ini didasarkan pada pengalaman belajarnya di bagian corner. Ia merasa sesi belajarnya menjadi tidak nyaman, sebab keterbatasan tempat duduk membuatnya harus menulis di lantai.
Selain ruang edukasi, Balai Pemuda Surabaya juga menghadirkan pameran seni yang menampilkan karya dari berbagai kalangan, baik seniman muda maupun komunitas kreatif. Salah satunya ruang yang sering digunakan sebagai tempat pameran seni lukis bernamakan Galeri Merah Putih.
Bertepatan tanggal 1 hingga 8 April 2026, Komunitas Aksi Seniman Surabaya (ASSU) menggelar pameran seni lukis bertajuk “Art of Freedom” di Galeri Merah Putih. Salah satu pengunjung, Vania (20), mengatakan bahwa dengan adanya pameran seni, para seniman mendapatkan kesempatan untuk mengenalkan karya mereka ke publik. “Para seniman di sini jadi punya tempat untuk menyalurkan kreativitas, saya sebagai pengunjung pun merasa beruntung bisa menikmati karya bagus di sini,” ungkapnya.
Vania juga menambahkan dengan keberadaan perpustakaan umum dan ruang pameran menjadikan Balai Pemuda bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi juga tempat untuk mendorong pengembangan literasi dan kreativitas warga Surabaya. Ia berharap kedepannya akan banyak masyarakat yang memanfaatkan fasilitas di Balai Pemuda Surabaya dengan kegiatan yang positif.
Balqis Athifah/Nathania Chalish Cetta Santoso

Komentar
Posting Komentar