Langsung ke konten utama

Berbagi Ilmu, Berbagai Pengalaman: Cerita Pengurus Wepose Dampingi Anak Marginal

Kegiatan Belajar-Mengajar Wepose Sumber: Dokumentasi Pribadi Jejak Warta

JEJAK WARTA, SURABAYA - Di balik gemerlapnya Kota Surabaya, masih ada realitas lain yang mungkin tidak bisa dilihat dari mata telanjang. Sejumlah anak hidup dalam keterbatasan akses pendidikan. Melalui Komunitas Wepose Indonesia, khususnya di Surabaya, para pengurus dan relawan hadir untuk mendampingi dan memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi anak-anak tersebut. Serta kegiatan ini menjadi wadah untuk berbagi ilmu sekaligus pengalaman bagi anak muda. 

Salah satu pengurus titik Komunitas Wepose, Athaya, yang saat ini bertugas di bidang media, mengaku mulai bergabung pada Januari 2026. Dalam struktur Komunitas Wepose ini, terdapat pengurus inti yang mengoordinasikan seluruh kegiatan di Surabaya dan pengurus titik yang fokus mendampingi anak-anak di masing-masing lokasi. 


Ia sedikit menjelaskan bahwa alasan ketertarikannya untuk bergabung dengan Wepose dilatarbelakangi oleh fokus terhadap isu anak-anak marjinal, yang juga sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

“Yang membuat aku tertarik itu karena mereka fokus pada isu anak-anak marginal. Jadi sesuai juga sama latar belakang jurusanku,” ujarnya.


Kegiatan Wepose ini rutin dilakukan setiap hari Sabtu di masing-masing titik. Titik-titik tersebut berada di berbagai daerah, tetapi masih dalam lingkup Kota Surabaya, yakni di Wonokromo, Kalisari Damen, Pasar Turi, dan Keputran. Sebagai pengurus titik, ia terlibat dalam berbagai kegiatan yang tidak hanya di aktivitas belajar-mengajar. Namun, terdapat juga kegiatan lain seperti wegotside (belajar di luar balai tapi khusus di titik), buka bersama saat bulan Ramadan, serta pembuatan karya kreatif bersama anak-anak.


Dalam proses belajar-mengajar, ia mengungkapkan bahwa metode yang digunakan disesuaikan dengan kondisi anak-anak di lapangan. Pada satu pertemuan, jumlahnya bisa mencapai sekitar 30 anak dengan latar belakang usia yang berbeda, mulai dari TK hingga SMP.

“Karena anak-anaknya aktif dan banyak, sekali datang ada 30 anak dan itu beda-beda, ada yang TK, SD, SMP, jadi ngajarnya dikelompokkan,” jelasnya.


Ia juga menambahkan bahwa setiap pengurus memegang tiga sampai lima anak sesuai umur dan kemampuan masing-masing.

“Satu kakak pegang tiga sampai lima anak sesuai umur dan kemampuan mereka,” tambahnya.


Selain kegiatan belajar-mengajar di masing-masing titik, terdapat kegiatan inti yang mencakup semua wilayah menjadi satu. Contohnya, Suroyo (Suara Anak Surabaya) dan FAS (Festival Anak Surabaya) menjadi wadah bagi anak-anak untuk menampilkan potensi mereka. Kegiatan ini dilakukan secara rutin setahun 2 kali per 6 bulan. Terdapat juga kegiatan outing class yang turut diadakan sebagai sarana belajar atau bermain di luar ruang, seperti kunjungan ke KidZania.


Infografis Berbagi Ilmu, Berbagai Pengalaman: Cerita Pengurus Wepose Dampingi Anak Marginal
(Jejak Warta/Miftahul Ilma)

Menurutnya, pengalaman menjadi pengurus titik membuat sudut pandang baru tentang kehidupan di kota besar. 

“Jujur, seru banget, soalnya kayak kita tahu sisi lain dari Kota Surabaya yang terkenal megah di mata orang-orang yang ngga tahu seluk-beluknya Surabaya. Terus juga tahu kalau ada anak-anak yang ngga sekolah karena keterbatasan biaya atau karena orang tua, padahal mereka masih kecil, itu membuat aku dan temanku jadi lebih bersyukur,” ungkapnya.


Namun, dalam pelaksanaannya ini, ia juga menghadapi berbagai tantangan saat mendampingi anak-anak dengan latar belakang yang beragam.

“Tantangan paling utama sih adab dan emosinya susah dikendalikan, suka ngomong kotor, sering berantem, agak nyolot, dan lain-lain.”


Meskipun begitu, pengalaman-pengalaman tersebut justru memberikan dampak positif bagi dirinya. Ia mengaku menjadi lebih bersyukur dan memiliki kepedulian sosial yang lebih tinggi. Di bagian akhir, ia berharap Komunitas Wepose ini bisa terus berkembang dan konsisten dalam memberikan dampak bagi anak-anak.

“Aku berharap semoga Wepose ini selalu berkembang, jangan sampai putus atau tenggelam di tengah jalan karena anak-anak ini masih butuh kakak-kakak yang semangat dalam memberi mereka ilmu,” tutupnya.


Miftahul Ilma/Callisa Chiara Rachman Putri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arus Balik Lebaran 2026, Pemudik Padati Stasiun Wonokromo Surabaya

Suasana ramainya arus balik lebaran 2026 di Stasiun Wonokromo Surabaya Sumber: Dokumentasi Pribadi Jejak Warta JEJAK WARTA, SURABAYA   -   Arus balik Lebaran 2026 di Stasiun Wonokromo, Surabaya, mulai mengalami lonjakan pada Sabtu (28/3/2026). Kepadatan penumpang terlihat di sejumlah titik seiring kembalinya pemudik untuk melanjutkan aktivitas kerja di kota. Pantauan di lokasi menunjukkan antrean mengular di loket tiket sejak pagi. Ruang tunggu hingga area peron dipadati penumpang dengan barang bawaan, menandakan tingginya mobilitas masyarakat pasca Lebaran. Lonjakan jumlah penumpang tidak hanya terjadi di area stasiun, tetapi juga berdampak pada kondisi di dalam kereta. Kepadatan tersebut membuat tingkat kenyamanan penumpang selama perjalanan menurun dibandingkan hari biasa. Infografis lonjakan arus balik Lebaran 2026 di Surabaya (Jejak Warta/Gladies Gresania ) Kondisi ini sejalan dengan proyeksi PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 8 Surabaya yang memperkirakan akan ...

Ramadan Vaganza Dorong Perputaran Ekonomi UMKM Lokal di Surabaya

Stan UMKM memenuhi Ramadan Vaganza  Sumber: Dokumentasi Pribadi Jejak Warta JEJAK WARTA, SURABAYA - Stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memadati Balai Kota Surabaya pada Ramadan Vaganza 2026 yang hadir kembali di bulan suci ramadan dan berlangsung sejak 25 Februari hingga 1 Maret 2026. Pemerintah Kota Surabaya bekerja sama dengan Suara Surabaya turut ambil bagian sebagai penyelenggara Ramadhan Vaganza. Tidak hanya sebagai kegiatan tahunan tetapi hadirnya acara ini memberikan ruang bagi pemilik UMKM upaya mendorong perputaran ekonomi lokal.  “Tujuan dengan adanya kegiatan ini selain memeriahkan bulan ramadhan, sebagai tempat ngabuburit juga pastinya membantu para UMKM. Sebelumya UMKM yang sudah biasa berjualan di sini juga kita ajak untuk ikut ambil bagian, dan ditambahkan kami membuka kesempatan UMKM binaan Bank Jatim ataupun UMKM lainnya untuk berjualan di acara ini,” jelas Vina Maulida selaku ketua pelaksana Ramadhan Vaganza 2026.   Salah satu pelaku UMKM menga...

Sempat Naik Jelang Lebaran, Harga Bahan Pangan di Surabaya Kini Masih Berfluktuasi

Suasana transaksi bahan pangan di Pasar DTC Wonokromo Surabaya Sumber: Dokumentasi Pribadi Jejak Warta JEJAK WARTA, SURABAYA - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, harga sejumlah bahan pangan di pasar Surabaya mulai merangkak naik. Komoditas utama seperti telur, minyak goreng, daging ayam, daging sapi, hingga cabai mengalami peningkatan harga akibat tingginya permintaan masyarakat. Salah satu pedagang di Pasar DTC Wonokromo Surabaya, Marsipah, turut merasakan adanya kenaikan harga pada berbagai bahan pangan menjelang Lebaran. Ia mengatakan kondisi tersebut sudah menjadi hal yang sering terjadi setiap tahun. “Seminggu sebelum Lebaran sudah mulai naik, cabai naik signifikan. Bahan pangan seperti minyak, telur juga naik dan daging ayam serta daging sapi juga ikut naik. Banyak permintaan seminggu sebelum lebaran terus juga pasokan belum stabil dan terbatas mba,” ujar Marsipah. Berdasarkan data harga bahan pangan di Jawa Timur, pada periode lebaran harga minyak goreng sempat berada di atas harg...