Toko Agen Plastik
Sumber: Dokumentasi Pribadi
JEJAK WARTA, SURABAYA – Lonjakan harga plastik per awal April 2026 menjadi masa sulit bagi pelaku usaha kecil di Surabaya. Kenaikan harga plastik yang terjadi secara tiba-tiba membuat biaya produksi sejumlah pedagang turut meningkat.
Dilansir dari Liputan6.com, Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah menjadi penyebab utama pasokan bahan baku menjadi terhambat. Indonesia sangat bergantung pada impor nafta sebagai bahan baku utama dalam produksi plastik. “Nafta itu kita impor dari Timur Tengah, jadi kita terdampak dari bahan baku yang kita impor,” jelas Budi Santoso dikutip dari Antara, Senin (6/4).
Nafta merupakan senyawa turunan minyak bumi berupa cairan hidrokarbon menengah yang menjadi bahan baku penting di industri petrokimia. Bahan baku tersebut digunakan untuk memproduksi bahan bakar, karet, pelarut, hingga plastik.
Budi Santoso turut menerangkan ketika pasokan nafta terganggu, maka secara otomatis biaya produksi meningkat dan berdampak pada harga plastik di pasar. Kenaikan harga plastik ini terjadi di tengah ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku petrokimia, termasuk nafta, yang sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah.
Agen distributor plastik, Cikul (24) mengaku mengetahui informasi kenaikan harga plastik dari pabrik produksi. “Dari produsen plastik dikasih tahu karena ketersediaan bahan baku plastik, nafta, terhambat karena konflik Iran-AS,” ungkapnya.
Menambahi Cikul, Puput (24) menjelaskan bahwa sejak bulan Maret, hampir seluruh jenis plastik yang di tokonya mengalami kenaikan harga hampir 50%. “Dari hari menjelang lebaran, beberapa jenis plastik itu naik. Kalau sekarang, thinwall, botol, sama cup yang harganya naik drastis. Naiknya tuh bisa sampai Rp20.000 ke atas per jenisnya,” aku Puput.
Puput menerangkan bahwa tidak hanya plastik bening yang naik, harga kemasan berwarna seperti kresek berwarna, kertas minyak, dan tutup botol plastik turut meningkat. “Plastik yang berwarna juga sama naiknya. Harganya memang tidak se-fantastis yang bening, tapi tetap harganya naik karena mengikuti harga pasaran. Tergantung ukurannya juga. Contohnya botol plastik ukuran 350 ml itu dulu harga Rp52.000, sekarang naik menjadi Rp78.000. Tutup botolnya mengikuti, dulu harganya Rp8.000, sekarang naik jadi Rp12.000,” jelas Puput.
Kenaikan harga dari produsen turut mendorong distributor untuk menyesuaikan harga jual di tingkat pasar. Naiknya harga plastik membuat Cikul menghentikan penjualan beberapa jenis plastik di tokonya, “Pabrik tempat saya ambil plastik itu sudah tidak memproduksi thinwall karena harga produksinya juga mahal sekali. Saya terpaksa tidak menjualnya.”
Tidak hanya dari agen distributor, dampak serupa juga dirasakan oleh Panca (42), seorang pedagang makanan dan minuman yang menggunakan plastik sebagai kemasan utama dagangannya. Panca menerangkan jenis kemasan yang ia beli sehari-hari seperti mika, gelas plastik, kresek, dan plastik kiloan mengalami kenaikan yang tidak wajar, “Harganya naik sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000. Misalnya gelas plastik, dulu harganya Rp13.000, sekarang harganya melejit sampai Rp22.000.”
Mengetahui harga plastik meningkat, Panca turut menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik membuatnya bimbang dalam menentukan harga jual dagangannya, “Pembeli langganan saya itu rata-rata anak kos. Daripada saya turunkan takarannya, lebih baik saya menaikkan beberapa harganya, khususnya minuman.”
Panca berharap pemerintah segera menemukan solusi dan kebijakan yang dapat menstabilkan harga plastik di pasaran, “Ya semoga saja harganya kalau bisa balik lagi ke normal, stabil, dan tidak ada kenaikan lagi.”
Komentar
Posting Komentar