Langsung ke konten utama

Semanggi Surabaya: Kuliner Legendaris yang Bertahan di Tengah Modernisasi Pasar Atom


Kios Semanggi Milik Ibu Tinah di Pasar Atom

Sumber: Dokumentasi Pribadi


JEJAK WARTA, SURABAYA - Pasar Atom yang berada di Jl. Bunguran No. 45, Bongkaran telah lama terkenal di kalangan masyarakat sebagai salah satu pusat perbelanjaan legendaris yang berdiri sejak tahun 1972. Ditengah-tengah modernisasi zaman, Pasar Atom tetap mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu pasar pilihan Masyarakat Surabaya.


Pasar Atom terdiri dari berbagai kios, mulai dari fashion, emas, elektronik, hingga beragam kios yang menyediakan kuliner dengan berbagai macam jenis. Kuliner di Pasar Atom memang sedari dulu menarik perhatian masyarakat karena disini tersedia berbagai macam jajanan pasar hingga makanan khas daerah yang legendaris.


Di sudut Pasar Atom, terdapat kios kuliner semanggi milik Ibu Tinah yang masih mempertahankan eksistensinya. Kios ini buka dari pukul 10.00 hingga 18.00 sesuai dengan jam buka Pasar Atom. “Kalau mulai berjualan, disini sejak tahun 2000-an,” kata Bu Kusmiati selaku penjaga kios pada Hari Jumat (3/4/2026).


Kuliner semanggi merupakan makanan khas Surabaya yang sudah terkenal sejak dulu. Daun semanggi yang sudah direbus disajikan dengan sayur tauge yang kemudian disiram dengan bumbu khasnya, yakni bumbu kacang dengan campuran petis. 


Untuk sentuhan akhir, penyajiannya dilakukan di atas daun pisang dan disantap bersama dengan kerupuk puli. Meskipun terlihat sederhana, tetapi dengan cita rasa khasnya yang gurih, sedikit manis, dan sentuhan dari bumbu petis menjadikan kuliner semanggi memiliki cita rasa yang unik.


Kondisi penjualan semanggi tidak seramai dulu, salah satunya dikarenakan berkurangnya peminat dan pengunjung Pasar Atom pun berkurang. “Pembeli masih ada sih namanya makanan khas, tapi ga seramai dulu kan pengunjungnya sudah berkurang,” ujar Bu Kusmiati. 


Di kalangan generasi muda, peminat untuk makanan khas berkurang, terutama kuliner semanggi ini. Maraknya kehadiran makanan kekinian dan makanan dari luar negeri yang semakin digemari membuat persaingan kuliner semakin ketat. Hal ini membuat kuliner khas daerah, termasuk semanggi harus berusaha dengan keras untuk tetap mempertahankan eksistensinya sebagai kuliner khas Indonesia.


Kondisi penjualan ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi Bu Tinah dan Bu Kusmiati dalam berjualan kuliner semanggi. Tetapi, mereka memiliki cara jitu untuk tetap bertahan di era modern seperti sekarang ini.


“Banyak yang beli gini, paketan-paketan kering buat ke luar kota. Pembeli paketan ini pasti masih ada,” ujar Bu Kusmiati sembari menunjuk etalase yang berisi bahan-bahan untuk isi paket-paket kering.


Pembeli yang datang langsung untuk pembelian satuan semakin berkurang tiap harinya. Untuk menyiasati hal ini, Ibu Tinah selaku pemilik kios semanggi membuat paket-paket yang berisi bahan-bahan semanggi kering agar pembeli dapat membeli paketan ini untuk dibawa keluar kota, oleh-oleh, maupun acara besar.


“Harapannya ya kuliner semanggi ini tetap ada, tetap jalan,” ujar Bu Kusmiati dengan harapannya. Menurut Bu Kusmiati, kuliner semanggi harus tetap hadir dan mempertahankan eksistensinya sebagai makanan khas daerah yang legendaris.


Dengan inovasi paket semanggi kering dan upaya untuk menjaga resep tradisional, kuliner semanggi diharapkan tetap bisa dinikmati generasi sekarang maupun yang akan datang. Keberadaan semanggi bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol tradisi dan warisan kuliner Surabaya. Semanggi menjadi bukti bahwa makanan tradisional masih memiliki tempat di tengah arus modernisasi dan persaingan kuliner yang semakin ketat setiap harinya.


Infografis Kios Semanggi Milik Ibu Tinah di Pasar Atom, Surabaya

(Jejak Warta/Callisa Chiara Rachman Putri)


Callisa Chiara Rachman Putri/Trisna Endah Pramesuari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arus Balik Lebaran 2026, Pemudik Padati Stasiun Wonokromo Surabaya

Suasana ramainya arus balik lebaran 2026 di Stasiun Wonokromo Surabaya Sumber: Dokumentasi Pribadi Jejak Warta JEJAK WARTA, SURABAYA   -   Arus balik Lebaran 2026 di Stasiun Wonokromo, Surabaya, mulai mengalami lonjakan pada Sabtu (28/3/2026). Kepadatan penumpang terlihat di sejumlah titik seiring kembalinya pemudik untuk melanjutkan aktivitas kerja di kota. Pantauan di lokasi menunjukkan antrean mengular di loket tiket sejak pagi. Ruang tunggu hingga area peron dipadati penumpang dengan barang bawaan, menandakan tingginya mobilitas masyarakat pasca Lebaran. Lonjakan jumlah penumpang tidak hanya terjadi di area stasiun, tetapi juga berdampak pada kondisi di dalam kereta. Kepadatan tersebut membuat tingkat kenyamanan penumpang selama perjalanan menurun dibandingkan hari biasa. Infografis lonjakan arus balik Lebaran 2026 di Surabaya (Jejak Warta/Gladies Gresania ) Kondisi ini sejalan dengan proyeksi PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 8 Surabaya yang memperkirakan akan ...

Ramadan Vaganza Dorong Perputaran Ekonomi UMKM Lokal di Surabaya

Stan UMKM memenuhi Ramadan Vaganza  Sumber: Dokumentasi Pribadi Jejak Warta JEJAK WARTA, SURABAYA - Stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memadati Balai Kota Surabaya pada Ramadan Vaganza 2026 yang hadir kembali di bulan suci ramadan dan berlangsung sejak 25 Februari hingga 1 Maret 2026. Pemerintah Kota Surabaya bekerja sama dengan Suara Surabaya turut ambil bagian sebagai penyelenggara Ramadhan Vaganza. Tidak hanya sebagai kegiatan tahunan tetapi hadirnya acara ini memberikan ruang bagi pemilik UMKM upaya mendorong perputaran ekonomi lokal.  “Tujuan dengan adanya kegiatan ini selain memeriahkan bulan ramadhan, sebagai tempat ngabuburit juga pastinya membantu para UMKM. Sebelumya UMKM yang sudah biasa berjualan di sini juga kita ajak untuk ikut ambil bagian, dan ditambahkan kami membuka kesempatan UMKM binaan Bank Jatim ataupun UMKM lainnya untuk berjualan di acara ini,” jelas Vina Maulida selaku ketua pelaksana Ramadhan Vaganza 2026.   Salah satu pelaku UMKM menga...

Sempat Naik Jelang Lebaran, Harga Bahan Pangan di Surabaya Kini Masih Berfluktuasi

Suasana transaksi bahan pangan di Pasar DTC Wonokromo Surabaya Sumber: Dokumentasi Pribadi Jejak Warta JEJAK WARTA, SURABAYA - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, harga sejumlah bahan pangan di pasar Surabaya mulai merangkak naik. Komoditas utama seperti telur, minyak goreng, daging ayam, daging sapi, hingga cabai mengalami peningkatan harga akibat tingginya permintaan masyarakat. Salah satu pedagang di Pasar DTC Wonokromo Surabaya, Marsipah, turut merasakan adanya kenaikan harga pada berbagai bahan pangan menjelang Lebaran. Ia mengatakan kondisi tersebut sudah menjadi hal yang sering terjadi setiap tahun. “Seminggu sebelum Lebaran sudah mulai naik, cabai naik signifikan. Bahan pangan seperti minyak, telur juga naik dan daging ayam serta daging sapi juga ikut naik. Banyak permintaan seminggu sebelum lebaran terus juga pasokan belum stabil dan terbatas mba,” ujar Marsipah. Berdasarkan data harga bahan pangan di Jawa Timur, pada periode lebaran harga minyak goreng sempat berada di atas harg...