Mey Avlorina saat mengajar anak-anak dalam kegiatan belajar di Gereja
Sumber: Dokumentasi Pribadi Jejak Warta
JEJAK WARTA, SURABAYA - Kisah inspiratif datang dari Dr. Mey Avlorina, S.S., M.Th., M.Psi. seorang pendeta perempuan sekaligus pendiri Yayasan Roti dan Ikan. Yayasan yang dibangun atas kegelisahannya terhadap bantuan sosial yang datang ke panti asuhan tidak tersalurkan dengan baik. Anak-anak desa yang secara usia dan jenjang seharusnya sudah mampu membaca dan menghitung, namun belum memiliki kemampuan dasar tersebut.
“Banyak yang menyumbang, tapi tidak semuanya sampai ke yang membutuhkan. Bahkan ada yang dijual kembali. Saya pernah menemui anak SMP kelas 7 yang belum bisa membaca lancar. Bahkan, berhitung sederhana masih menggunakan jari,” ungkapnya. Kondisi serupa juga ditemukannya pada anak-anak sekolah dasar. Baginya, persoalan ini menjadi cerminan ketimpangan akses pendidikan di wilayah desa.
Temuan tersebut mendorong Mey Avlorina untuk turun langsung ke desa. Ia mendirikan kelas belajar gratis pada setiap akhir pekan. Kelas ini menjadi wadah untuk mengejar ketertinggalan mereka. Kelas dilaksanakan di gereja, keputusan ini diambil karena tidak ada fasilitas lain yang dapat menampung anak-anak. Hal ini sempat menjadi keraguan di tengah masyarakat yang beragam agama. “Awalnya orang tua ikut mendampingi, setelah beberapa pertemuan dan melihat anaknya dapat berkembang, mereka mulai percaya,” ujarnya.
Di kelas tersebut, kegiatan tidak hanya berfokus pada peningkatan akademik. Anak-anak juga diajak untuk menggambar, melipat origami, hingga bermain bersama. Kegiatan yang terlihat sederhana, tetapi bagi mereka menjadi pengalaman berharga. Pasalnya, banyak anak harus membantu orang tua untuk bekerja sejak usia dini,. bahkan juga harus menjaga adiknya sejak usia lima atau enam tahun. “Banyak anak tidak benar-benar menikmati masa kecilnya,” ungkapnya.
Melalui Yayasan Roti dan Ikan, Mey Avlorina berupaya menghadirkan kembali ruang bagi anak-anak untuk merasakan masa kecil yang seharusnya. Ia berusaha memenuhi kebutuhan tersebut, sebagian besar dana berasal dari kantong pribadinya. Keterbatasan dana juga menjadi tantangan, terutama dalam memenuhi kebutuhan seperti perlengkapan sekolah. Usaha yang dilakukan Mey Avlorina, terlihat sederhana. Namun, terdapat usaha besar untuk mengembalikan hak dasar bagi anak, seperti belajar, bermain, serta merasakan masa kecil yang seharusnya dimiliki.
Mutiatul Hasanah / Fathinah Najla Islamiah
Komentar
Posting Komentar