Suasana creativepreneur carnival di halaman gedung FEB UPN Veteran Jawa Timur
Sumber: Dokumentasi Pribadi Jejak Warta
Mulai dari tenant makanan, photobooth, game, hingga jasa manicure hadir dalam Creativepreneur Carnival tahun ini. Bukan hanya menghadirkan suasana bazar yang ramai, kegiatan tersebut juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa program studi Kewirausahaan untuk mengenal dunia usaha secara langsung.
Creativepreneur Carnival sendiri merupakan kegiatan rutin yang diadakan bagi mahasiswa semester empat oleh program studi Kewirausahaan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya diminta menjual produk, tetapi juga belajar bagaimana mengelola sebuah usaha dari awal.
Tata selaku koordinator acara menjelaskan bahwa Creativepreneur Carnival menjadi salah satu langkah program studi kewirausahaan dalam memberikan pengalaman praktik nyata kepada mahasiswa. “Creativepreneur ini diadakan untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam mengelola penjualan, internal, dan operasional untuk mendirikan usaha,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman praktik secara langsung penting bagi mahasiswa karena dunia usaha tidak bisa dipahami hanya lewat teori di dalam kelas. Mahasiswa perlu menghadapi kondisi nyata agar mengetahui bagaimana cara menyelesaikan masalah yang muncul selama menjalankan usaha.
Infografis Creativepreneur Carnival 2026
(Jejak Warta/Lily Marisya)
Selama acara berlangsung, mahasiswa juga dituntut memahami banyak hal di luar proses jual beli, seperti membagi tugas dalam tim dan mengatur keuangan usaha mereka. Selain itu, mahasiswa juga belajar memikirkan strategi promosi hingga menghadapi konsumen secara langsung selama bazar berlangsung.
Ramainya pengunjung dan stand dengan konsep yang menarik ternyata menyimpan pengalaman baru bagi para mahasiswa yang terlibat di dalamnya. Bagi sebagian peserta, Creativepreneur Carnival menjadi kesempatan pertama untuk merasakan langsung bagaimana menghadapi dunia usaha.
Salah satunya adalah Dewi, peserta yang membawa usaha makanan bernama “Mentaikyu”. usaha tersebut menjual dimsum mentai serta minuman es teh dengan beberapa varian rasa seperti leci, dan anggur yang ditujukan untuk kalangan mahasiswa. Bagi Dewi, Creativepreneur Carnival memberikan pengalaman yang berbeda dibanding hanya belajar teori di ruang kelas.
Menurutnya, praktik langsung membuat mahasiswa lebih memahami kondisi sebenarnya dalam dunia bisnis. “kalau cuma belajar teori kadang kita belum tahu kondisi sebenarnya di lapangan, dengan praktik langsung kayak gini kita jadi tahu cara menghadapi konsumen, mengatur penjualan, dan menyelesaikan masalah yang muncul saat usaha berjalan,” jelasnya.
Dewi mengaku sempat merasa gugup saat harus menawarkan produk kepada pengunjung yang belum dikenalnya. Namun seiring berjalannya acara, ia mulai terbiasa dan lebih percaya diri dalam berkomunikasi dengan pelanggan.
Tidak sedikit peserta yang terlihat aktif menarik perhatian pengunjung dengan berbagai cara. Ada yang menawarkan promo, mengajak teman datang ke stand mereka, hingga menghias booth semenarik mungkin agar lebih mencuri perhatian. Kondisi tersebut menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana persaingan usaha terjadi secara langsung.
Creativepreneur Carnival juga memperlihatkan berbagai ide bisnis unik dari mahasiswa kewirausahaan. salah satu yang menarik perhatian adalah usaha es krim di atas roti yang tetap bisa dijual tanpa fasilitas pendingin memadai. Selain itu, terdapat pula start up bengkel online yang menawarkan jasa servis kendaraan secara digital.
Lebih dari sekadar bazar kampus, Creativepreneur Carnival menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menghadapi tantangan dunia usaha secara nyata. Di balik stan sederhana dan ramainya pengunjung, ada proses panjang tentang keberanian mencoba, belajar dari kesalahan, hingga membangun mimpi usaha mereka sendiri.
Lily Marisya/Trisna Endah Pramesuari
Posting Komentar